kisah-soeharto-dan-asal-muasal-nama-dawet-ayu-khas-banjarnegaraBanjarnegara saat ini sedang menjadi fokus pemberitaan. Bencana tanah longsor yang menewaskan seratusan orang ini membuat kabupaten ini menjadi sorotan media nasional.

Data terakhir, 61 jenazah sudah ditemukan tertimbun material tanah, namun puluhan lainnya masih belum ditemukan. Hingga kini belum bisa dipastikan berapa jumlah warga yang tertimbun longsor besar itu. Longsor juga membuat akses jalan di Banjarnegara terputus.

Banjarnegara selama ini dikenal sebagai kota dawet. Dawet Ayu menjadi minuman khas Banjarnegara yang sudah kesohor. Dawet Ayu mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, bahkan di Ibu Kota Jakarta juga sangat mudah ditemui Dawet Ayu.

Es Dawet Ayu khas Banjarnegara lezat serta segar dan sangat cocok diminum pada cuaca panas, es dawet dapat diminum panas atau pun dingin dengan menambahkan es batu. Rasanya yang segar, inilah keistimewaan serta keunikan minuman tradisional khas Banjarnegara yang satu ini.

20141216210755-2-dawet-ayu-banjarnegara-002-isnJika anda berwisata ke Banjarnegara belum lengkap kalau belum menikmati sajian segarnya Dawet Ayu. Minuman yang digemari para wisatawan ini berawal dari perpaduan santan, air gula Jawa/juruh dan isinya dawet yang terbuat dari tepung beras dan sedikit tepung pohon aren
Dalam pembuatannya dawet ayu menggunakan air perasan daun pandan/daun suji sehingga berwarna hijau. Dengan aroma khas yang wangi alami membuat aroma semakin nikmat. Semakin majunya zaman Dawet Ayu pun banyak disajikan dengan aneka rasa. Beberapa penjual Dawet Ayu yang menambahkan buah nangka, durian atau buah lain guna menambah kelezatan dan aroma Dawet Ayu.

Namun meski sudah terkenal ke segala penjuru nusantara hingga kini masih sering muncul pertanyaan mengapa disebut Dawet Ayu? Untuk menjawab pertanyaan ini ternyata ada empat versi.

Versi pertama, menurut Ketua Dewan Kesenian Banjarnegara Tjundaroso, dawet Banjarnegara menjadi terkenal awalnya dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono berjudul ‘Dawet Ayu Banjarnegara’. Pada tahun 1980-an, lagu itu lalu dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol yang terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an. Sejak itu kebanyakan orang di Karesiden Banyumas mengenal dawet Banjarnegara dengan julukan Dawet Ayu. Lirik lagunya sederhana, tetapi mengena. Lagu bercerita tentang seorang adik yang bertanya kepada kakaknya mau piknik ke mana? Jangan lupa beli dawet Banjarnegara yang segar, dingin, dan manis.

“Kakang kakang pada plesir, maring ngendi ya yi
Tuku dawet dawete Banjarnegara
Seger, anyes, legi.. apa iya?
Daweet ayu? Dawete Banjarnegara.”

Versi kedua, ada cerita lain lagi soal kemunculan nama dawet ayu. Seniman Ahmad Tohari mengatakan, berdasarkan cerita tutur turun-temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20. Generasi ketiga pedagang itu terkenal karena cantik. Maka, dawet yang dijual pun disebut orang sebagai Dawet Ayu.

Versi ketiga, apa yang disampaikan Tohari sejalan dengan keterangan tokoh masyarakat Banyumas, Kiai Haji Khatibul Umam Wiranu. Menurut Wiranu, nama dawet ayu muncul dari pedagang yang bernama Munardjo. Istrinya cantik sehingga dawetnya disebut dawet ayu. Mereka sudah meninggal pada tahun 1960-an.

Versi terakhir yang sering disampaikan mulut ke mulut, nama Dawet Ayu diberikan oleh Presiden Soeharto saat berkunjung ke Banjarnegara. Saat itu, Soeharto sedang ada peresmian proyek nasional di Kabupaten Banjarnegara. Soeharto lalu disajikan Dawet Banjarnegara oleh wanita cantik (ayu). Melihat kecantikan sang pembuat dawet, Soeharto kemudian menyarankan agar Dawet tersebut diberi nama Dawet Ayu.

Hingga kini belum jelas versi mana yang paling tepat untuk menjelaskan asal muasal Dawet Ayu. Meski demikian, kenikmatan Dawet Ayu sudah lebih melalang buana ketimbang asal muasal namanya. Tertarik mencicipi Es Dawet Ayu Khas Banjarnegara? Silakan mencoba.

Soeharto Dan Sejarah Dawet Ayu Banjarnegara