Nama restoran ini Blue Jasmine, mirip judul film drama komedi hitam garapan sutradara Woody Allen yang dibintangi Cate Blanchett.

“Tapi kami tidak terinspirasi dari film itu,” kata Toni, Manajer Blue Jasmine, di Jalan Kyai Maja 39, persis di depan Taman Puring, Jakarta Selatan.

Menempati lantai satu gedung The Maja, dari luar bangunannya mirip rumah orang Belanda yang bergaya art deco. Sederhana sekaligus klasik. Tapi, begitu masuk, terlihat beberapa ornamen khas oriental, seperti guci dan vas keramik warna putih biru bergambar fauna di lobi.

Makanan pembuka kami adalah Kerabu Mangga Manis Pedas (Rp 47,5 ribu). Menu ini diantar tak sampai sepuluh menit setelah dipesan.

Tampilannya mirip mi kuning goreng. Apalagi di atasnya ada irisan bawang merah dan cabai, serta dua potong udang gembul. Menurut koki Blue Jasmine, Budi Setiawan, menu ini terilhami oleh salad mangga Thailand.

“Tapi sudah disesuaikan lidah orang Indonesia,” kata dia.

Kerabu Mangga Manis Pedas terdiri atas irisan mangga belum terlalu masak yang dicampur coriander atau daun ketumbar beraroma tajam. Bahan sambalnya adalah irisan bawang merah, cabai rawit merah, tumbukan kacang mete, dicampur saus asam pedas. Campuran tersebut menghasilkan rasa asam, pedas, dan manis sekaligu, ditambah irisan mangga muda.

kuliner unikMenu utama andalan restoran ini adalah masakan dan minuman peranakan. Namun, seperti kata Budi, resep sudah dimodifikasi demi menyesuaikan selera lokal. Dalam daftar menu, tersaji deretan daftar olahan hasil laut serta menu lain yang banyak dijumpai di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Di deretan menu pembuka, dua menu yang namanya mencolok adalah Gado-gado Rujak Pengantin dan Pizza Sate Sapi/Ayam. Embel-embel kata pengantin merujuk pada “perkawinan” dua menu lokal, gado-gado dan rujak pada satu piring. Isinya bermacam buah dan sayur dituangi saus kacang pedas.

Adapun yang kami pesan adalah Pizza Sate Sapi (Rp 95 ribu). Semula saya membayangkan menu ini berupa satu loyang roti tebal dengan topping atau bagian atas roti beberapa tusuk sate sapi. Ternyata, roti pizza diganti dengan crepe atau panekuk tipis super-renyah.

Nah, di atas crepe lebar itu terdapat irisan kecil mentimun, tomat merah, dan potongan-potongan daging sapi bakar yang agak gosong.

“Tusukan satenya saya lepas agar presentasinya cantik,” ujar Budi.

Untuk bumbunya, Budi mengoleskan saus campuran kacang dan kari di atas crepe. Setelah crepe berbumbu itu keluar mesin oven, saus yang sama kembali dilumurkan di atasnya.

Sesuai dengan saran Ari, pelayan Blue Jasmine yang ramah dan informatif, kami memesan Gurame Goreng Sambal Kencong (Rp 110 ribu). Itu adalah menu andalan dari deretan makanan olahan hasil laut.

Di atas piring keramik khas peranakan, gurame itu disajikan seperti ikan terbang. Di bawahnya ada saus berwarna oranye terang berisi cacahan mangga muda dan kencong, sebutan warga Sumatera Utara untuk bunga kecombrang.

Gurame tersebut terlebih dulu dibumbui lada, garam, dan tepung agar renyah. Adapun sebagian kencong dihaluskan dengan saus asam pedas dan sebagian lainnya diiris kecil.

Kencong ini menghasilkan sensasi merekah di mulut ketika disantap. Aroma segar dan harumnya juga khas, mirip jahe dan lemon. Tak salah jika Blue Jasmine menjagokannya sebagai menu andalan.

Berikutnya, kami mencicipi Blue Opium (Rp 45 ribu) dari daftar minuman. Tampilannya menarik dengan gradasi biru tua hingga putih yang berasal dari sirup Blue Curacao.

Materi pengisinya cukup padat, yakni longan dan jamur putih, yang bercampur sari jahe, soda, dan perasan lemon. Rasanya segar, cuma rasa Blue Opium tak sekeren tampilannya. Paduan berbagai bahan itu malah menimbulkan sensasi janggal di mulut.

Sumber:tempo.co

Komen