Bangka Belitung terkenal sebagai pulau yang memiliki banyak pantai keren. Terlebih ketika muncul salah satu film anak negeri yang mengangkat kehidupan di sana, Laskar Pelangi. Awalnya saya berpikir, akan sangat menyenangkan ketika mendapatkan tugas lima hari di sana. Faktanya berbeda. Ada sedikit perjuangan yang harus saya bayar untuk menikmati dua pantai indah di sana, pantai terdekat dari pusat kota Bangka, Pangkal Pinang.

Perjalanan ke Bangka ditempuh hampir setengah hari perjalanan menggunakan pesawat udara dari Surabaya. Maklum, selain rute yang tersedia terbatas, harga yang tidak murah juga menjadi pertimbangan kami dalam memilih maskapai penerbangan. Tidak ada rute penerbangan langsung dari Surabaya. Jadi kami harus transit di Jakarta dan menunggu lama di sana.

keindahan tersembunyi pulau bangka belitung
Martabak Bangka

Tibalah di Bangka. Salah satu yang menjadi trademark Bangka adalah martabak. Hahayyess martabak di sana murah dan enak sekali. Meski di pinggir jalan, yang namanya martabak Bangka di kota asalnya memang enak. Ciri khas martabak ini adalah tambahan jagung manis sebagai isi martabaknya. Agak aneh juga, mengingat saya jarang menemuinya di Jawa, terlebih di Surabaya. Namun tidak ada yang aneh dari segi citarasanya, tetap saja pas di lidah.

Mayoritas penduduk Bangka adalah peranakan etnis cina dan pendatang dari kota besar di sekitarnya, seperti Palembang. Tak mengherankan bahwa di sepanjang jalan utama banyak penjual pempek dan kedai Kopi O. Penyajiannya serba sederhana, varian menu yang ditawarkan pun terbatas. Di antara para pedagang makanan dan minuman itulah baru pertama kalinya saya mencoba yang namanya pempek bakar. Rasanya aneh…menurut saya sih, lebih enak pempek di Jawa. Karena terlalu banyak menggunakan penyedap rasa, mungkin ya. Haha.

Kuliner Khas Bangka Belitung
Pempek Bangka
kuliner khas bangka belitung
Warung Kopi di Bangka

Seiring dengan mayoritas penduduk yang beretnis cina, saya menemukan banyak klenteng di sana sebagai tempat peribadatan. Klenteng cukup besar ada di dekat pasar baru, agak lupa namanya. Penjaganya cukup ramah memandu kami berkeliling dan menjelaskan sejarah klenteng tersebut.

Sebagai kota yang terbilang kecil, fasilitas kendaraan umum di Bangka pun bisa dikatakan terbatas. Hanya ada angkutan umum yang melayani rute dalam kota(angkot). Bahkan saking terbatasnya, supirnya melayani antar penumpang di luar rute (blusukan ke gang-gang kecil sampai depan rumah penumpang. Seperti para calon presiden, ya…) asal mereka bersedia membayar lebih.Jam operasi mereka sampai malam, sekitar jam 9 malam.

Jika pergi ke Bangka dengan low budget, jangan lupa minta nomer ponsel supir angkot, siapa tahu anda membutuhkannya.Hal ini benar adanya, mengingat jarak antar pantai-pantai yang menjadi komoditas utama pulau ini berada cukup jauh dari pusat kota Bangka, Pangkal Pinang. Dibanding menyewa mobil yang cukup mahal di sana (400 ribu satu hari, exclude bensin dan sopir) dan nyasar kesana kemari, saya sayarankan untuk menyewa angkot yang lebih terjangkau, hanya Rp175 ribu, berapapun orangnya, seharian. Maklum, petunjuk jalan di kota ini pun terbatas dan peta di internet juga tidak banyak membantu. Selain itu, letak pantai-pantai wisata di sana agak tersembunyi dari jalan utama. Jadi daripada Anda nyasar dan kehabisan waktu di jalan, lebih baik Anda merayu penduduk lokal untuk menemani atau menyewa supir angkot yang terkenal blusukan ini.

Dalam sehari saya berhasil mencapai dua pantai indah di sana, yang tentunya tidak terlalu jauh dari Pangkal Pinang, yakni Pantai Pasir Padi dan Parai. Waktu perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih dua jam, karena supir angkot yang saya percaya handal ini ternyata masih nyasar juga ke sana. Pantai tersebut ternyata belum benar-benar tersentuh upaya komersialisasi sebagai tempat wisata. Buktinya kami harus melewati banyak jalan kecil yang hanya muat untuk satu rute mobil dan jalan berlubang di sana-sini, dan letaknya cukup jauh dari jalan raya. Jarang ada papan petunjuk, hanya beberapa saja saat mendekati tujuan. Alhasil kami harus turun jalan menggunakan kompas mulut, alias bertanya pada penduduk lokal.

Namun perjalanan kami tidak sia-sia. Pantainya benar-benar bagus, hamparan pasir putih dan air biru yang membentang menyambut kedatangan kami di pantai pertama, Pasir Padi.

keindahan tersembunyi bangka belitung
Pantai Pasir Padi

Seperti kebanyakan pantai di Kepulauan Bangka Belitung, pantai di sana dipenuhi oleh batu granit besar di pinggirnya. Selain bermain di garis pantai yang panjang, pengunjung juga bisa bermain di taman bermain yang terdapat di antara area parkirdan pantai. Ada ayunan, perosotan, dan bangku taman, cocok untuk wisata keluarga. Hanya saja, berbeda dengan kebanyakan pantai di Jawa, Anda akan sulit menemukan kedai makanan. Jika mulai kelaparan, Anda harus merogoh kocek agak dalam untuk makan di restoran hotel yang terletak tidak jauh dari pantai.

Mengingat cuaca yang mendung dan hari yang semakin sore, kami bergegas meluncur ke Pantai Parai, pantai yang terkenal indah. Rumor itu tidak bohong, setidaknya itu yang saya rasakan. Sebagai penikmat pantai, saya benar-benar takjub dengan keindahan pantai tersebut. Sama halnya dengan Pantai Pasir Padi, di Pantai Parai terdapat banyak batu granit di pinggir pantai serta pasirnya halus berwarna putih. Perpaduan yang benar-benar pas, lanskap landai, garis pantai yang panjang, serta ombak yang tergolong tenang, pantai ini cocok untuk area bermain air.Selain itu, ada sebuah dermaga yang sangat pas bagi pengunjunguntuk lebih menikmati lanskap di pantai itu. Meski diguyur hujan, saya benar-benar menikmati semua perpaduan pemandangan di sana.

Keindahan Pantai Tersembunyi di Bangka Belitong
Pantai Parai Tenggiri
keindahan di balik bangka belitung
Dermaga Pantai Parai Tenggiri

Sebelum masuk ke pantai ini, kami dicegat oleh petugas keamanan hotel. Kami diminta membayar tiket masuk, Rp 5.000 per orang. Rupanya wilayah pantai ini sudah menjadi komoditas salah satu hotel di sana. Hotelnya tergolong bagus, tapi mungkin karena bukan hari libur, sedang sepi. Sepanjang berjalan ke arah pantai, ada taman yang sudah tertata dan spot-spot yang menarik untuk selfie, foto bersama, atau hunting foto pemandangan alam.

 

N.B: Ini adalah laporan perjalanan Syailendra yang dikirimkan ke email saya.

Parai, Keindahan Tersembunyi Pulau Bangka