Kisah ini ditulis oleh Rahmawati Aulia untuk mengenang sang ibu tercinta. Tentang kenangan-kenangan indah yang tak terlupakan. Kebahagiaan dan kesedihan. Suka dan duka. Dan juga tentang aroma secangkir kopi.

ibu-ingin-rasanya-kukirim-secangkir-kopi-hangat-untukmu-di-surga-sana

Secangkir kopi hitam pekat satu sendok makan kopi dan satu setengah sendok makan gula pasir, menguarkan aroma khas setiap pagi dan malam hari, kadang sore. Aroma itulah yang kini selalu kurindukan dan kukenang dari sosok orang yang paling kucintai dalam hidupku, Ibu. Ibuku punya racikan sendirinya untuk setiap gelas kopi yang ia buat harus kental, tak terlalu manis tapi tak terlalu pahit, harus diseduh dengan air super mendidih, dan harus penuh satu cangkir. Ritualnya, membeli berbungkus-bungkus biji mentah kopi berkualitas baik, digoreng dengan wajan tanah liat sampai menghitam. Ada tiga jenis kopi, satu kopi hitam murni, dua kopi jahe, tiga kopi dengan karak. Dulu, aku yang selalu membawanya penggilingan, menenteng tiga kresek hitam dengan aroma kopi yang berbeda satu kresek dengan yang lain.

“But there’s a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother’s story, because hers is where yours begin.”
― Mitch Albom, For One More Day

Kopi itu warnanya hitam, kalau tidak apalagi, itu yang aku waktu aku masih kecil. Aku tidak terlalu suka kopi, rasanya pahit dan membuat kepala pusing. Aku tergolong dalam pencinta teh mulai SMP hingga SMA. Tapi, entah kenapa, menginjak bangku kuliah, aku menjadi ketagihan kopi. Berbeda dengan ibu, aku tetap tidak suka kopi hitam pekat dan kental, kepalaku masih menolaknya mentah-mentah. Pada awalnya, ibu berkata bahwa kopiku itu bukan kopi. Latte, cappucino, mocca, kopi susu dan masih banyak rasa yang lain itu bukan kopi menurut beliau. Aku masih beragumen, itu kopi, no matter what. Saat pulang ke rumah, aku akan membeli stock kopiku sendiri, cappucino dan kopi susu tubruk adalah “kopi” favoritku, dan ibu tetap dengan kopi hitam pekatnya.

Sampai suatu hari ibu tidak lagi melakukan kebiasaan menyeduh kopi di pagi hari. Aroma kopi hitam pekat di kala matahari mulai menyapa rumahku sudah tidak tercium dalam kurun waktu yang lama diganti dengan aroma benalu teh yang diseduh dalam panci tanah liat. Iya, meminum benalu teh adalah salah satu bagian dari terapi pasca ibu menjalani operasi tumor pankreas. Kata dokter Jih Iswanto, ibu masih boleh minum kopi, tapi lebih baik benalu teh saat itu.
Kadang, saat aku di rumah, ibu menegur karena terlalu seringnya aku menyeduh kopi dalam sehari. “Kopi membuatku terjaga bu, tugasku banyak,” kilahku sembari terus memelototi layar laptop. Dalam hati aku menggerutu, “Inikan hanya latte, bukan kopi hitam pekat yang banyak kafeinnya, lagipula dulu aku tak pernah protes berapa banyak ibu menyeduh kopi dalam sehari.” Begitu dalihku, waktu itu aku harus sering bolak-balik Malang-Madiun untuk menemani ibu selama masa kemoterapi pasca operasi, ditambah aku harus terjaga hingga dini hari karena ibu susah sekali tidur karena sakit yang beliau rasa. Setiap malam, beliau tidak pernah betapa sakit badannya, ia hanya meminta, ‘dek, tolong dielus-elus punggungnya ibu ya…’. Saat-saat seperti itu, aku butuh kopiku sebagai doping.

Ide itu entah bagaimana datangnya dan kapan aku lupa. Saat sedang mendidihkan air untuk cappuccino-ku, tiba-tiba terlintas sebuah pikiran ‘meminum kopi bersama’. Aku mengembalikan sebungkus cappucino dan menggantinya dengan dua bungkus kopi tubruk, dua cangkir gelas aku tata, satu cangkir berukuran sedang dan satu kecil bertuliskan ‘Ibu’.
Aku ingat bahwa ibu suka sekali kopi hitam yang kental. Kalau kopi diseduh dengan terlalu banyak air ibu akan berkomentar, “Iini kopi apa pipisnya kuda?” Saat aku membawa secangkir kopi tubruk panas itu ke hadapannya, matanya berseri-seri seakan mendapat kupon berhadiah. Wajahnya tersenyum lebar, dengan anggun dia mencium aroma kopi, menyesapnya pelan, dan kemudian berkata, “Ini baru namanya kopi, lumayan kopi.” Sejak saat itu, apabila ibu ingin minum kopi, cara cerdasnya supaya tidak ditegur oleh bapak adalah mengajakku minum kopi bersama. Jadi, setiap aku pulang, selalu ada kopi susu tubruk berjejer rapi dalam lemari di dapur. Ya, ibu yang membeli sehingga kami bisa melakukan ritual minum kopi bersama di pagi hari saat sang surya menyapa hangat teras halaman rumah kami.
Entah bagaimana, secangkir kopi panas membuat kebersamaan kami semakin hangat. Setiap mencium aroma kopi, aku akan teringat bagaimana ia setiap pagi selalu bangun lebih awal dari kami sekeluarga. Menyeduhkan wedang jeruk atau jahe panas untuk bapak, teh panas untuk morning sick­ -ku yang sering kumat kalau pagi terlalu dingin, membangunkan kakakku yang super susah bangun subuh, membuat sarapan untuk kami semua, dan terakhir, secangkir seduhan kopi panas untuk dirinya sendiri.

Aroma kopi juga biasa tercium tengah malam pertanda ibu sedang lembur mengerjakan tugas dari sekolah, ibuku adalah seorang guru yang selalu berusaha membagi perannya dengan adil. Ia selalu berusaha pulang tepat waktu untuk mendengarkan ceritaku tentang, “Bagaimana sekolah?” konsekuensi dari ritual mendengarkan ceritaku adalah, tugas yang belum selesei ia kerjakan di sekolah ia bawa kerumah.

Sekarang kopi mempunyai arti lebih untukku. Secangkir kopi susu panas di kantin rumah sakit membuatku tersadar di pagi hari saat jam tidurku hanya satu hingga dua jam saja. Sebungkus french vanilla membuatku terjaga di malam hari selama menjaga ibuku di Rumah Sakit. Satu kaleng latte menahan kelopak mataku tertutup dalam perjalanan pulang naik motor dari Rumah Sakit ke kota tempatku kuliah. Tengah malam, hujan turun dengan deras, udara dingin, segelas kopi susu panas di kantin RS menemaniku mendengarkan dengan seksama penjelasan bapak tentang kanker pankreas stadium akhir yang diderita ibu.

Setiap malam, kepulan asap kopi beraroma cappucino, yang kata ibu lebih mirip bau telur daripada kopi, membuat mataku tetap terbuka, memijit punggung dan kaki ibu dengan body lotion agar ibu bisa tidur, walaupun kadang tetap membuatku terlelap apabila telah terlalu lelah pikiran dan badan. Membiarkan ibu bingung sendiri bagaimana aku masih saja bisa tidur (maaf ya bu untuk saat-saat seperti itu).

Tahun 2012, tepatnya tanggal 4 Juni, lima hari setelah aku dinyatakan sebagai Sarjana, ibu meninggal setelah empat hari koma. Hard working hands at rest. Terima kasih atas semua pelajaran hidup lewat kopi-kopi itu ya bu.

Mom, you know it well right? Remembering you is easy, I do it everyday through my pray, but missing you is heartache that never goes away. Let me hold it by a cup of hot cappuccino or others coffee. Then, I could hold you tightly, within my heart and your memory about coffee, and there you will always remain. I love you dearly mom. Always.

Komen