“Kerja itu sejatinya bukan cuma untuk cari uang, le…” begitu kata ibu saya. Memang, saya temui macam-macam tujuan. Antara lain, bisa juga untuk cari pengalaman. Atau, kalau sudah banyak pengalaman, untuk cari variasi teman dan jaringan. Nah, ada juga yang bilang waktu rasan-rasan, “suami saya itu kerjanya cuma cari alasan!”

Sis Neni (bukan tokoh sebenarnya) diam sebentar, wajahnya memerah dan bergetar, lalu melanjutkan, “oalah jeng, jeng… iya kalau dia kerja itu cari uang, cari nafkah thok, lha wong suami saya itu juga cari selingkuhan. Hmmh! Tak pites kalau sampai ketahuan!”

Mengingat situasi dan kondisi (sikon), juga banyaknya toleransi, saat ini, tujuan-tujuan itu tergolong lebih mulia. (Mmm, kecuali yang terakhir ya.) Masih lebih baik, menurut saya, bila dibandingkan tujuan yang cukup popular sejak zaman nenek saya sampai, mungkin, zaman ibu saya jadi nenek nanti: cari jabatan.

Atau, istilah kerennya jenjang karir yang mapan.

Memang sah-sah saja. Juga tidak salah-salah amat, sebenarnya. Dulu, selain jabatan itu menghasilkan banyak duit, juga menjadikan pribadi itu lebih terpandang.

Hanya saja, sekarang, tujuan itu dari zaman ke zaman semakin bergeser dan semakin kebacut rupanya.

Cari jabatan. Bukan cuma duitnya lebih besar, bukan cuma lebih terpandang, tapi karena sekarang jadi lebih banyak kesempatan. Rupanya, kasus yang dialami Sis Neni itu cuma efek sampingan.

Jabatan kini juga disempat-sempatkan untuk membangun dan memperkuat kerajaan dalam arti se-konotatif-konotatif-nya.

Kerajaan itu dipelihara dengan siraman keringat yang diperas dari rakyat. Diperluas dengan pupuk kebodohan yang diproduksi pabrik masif bernama sekolah gratis. Lalu diperkokoh dengan tembok pertahanan bernama Gerakan-Anti-Korupsi.

Oalah Gusti. Nelongso benar nasib kami. Bahkan payung tempat bernaung pejuang-pejuang kritik penuh vitalitas dan anti toleransi berlabel media informasi itu kini serupa singgasana raja-raja itu.

Sedangkan pejuang kritiknya yang dikenal sebagai pers, cukup banyak yang berlaku seperti penyanyi dangdut. Belum habis lagu sebait harus ada sawer yang sudah dikempit.

Gara-gara duit, Gusti. Gara-gara duit.

“Kerja juga untuk cari amal, le.” Begitu lanjut ibu saya. Bolak-balik ibu belajar ke ustadz. Belajar mengaji juga menggali.

“Kalau kata ustadz, lalu kita harus bagaimana bu? Apa memang sudah takdir seperti ini?”

“Kata ustad, le, Gusti Pangeran Maha Pencipta. Gusti menciptakan orang-orang seperti itu untuk menguji kita.”

Gusti…! Apa memang begitu? Apa boleh hamba salahkan Engkau karena ciptakan orang-orang yang jadi raja selundupan dalam kerajaan-Mu? Yang menghisap madu dunia dari kening sesamanya?

Gusti, hamba yakin ini bukan salah-Mu….

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here