Candaka

Sulit dipercaya. Mereka orang-orang tangguh. Semuanya pendekar hebat. Semuanya, juga, pembunuh bayaran profesional. Tapi Candaka rupanya lebih dari sekedar hebat. Ia baru saja menghabisi mereka semua dalam waktu singkat. Tidak lebih dari sepuluh detik.

Dan sekarang ia menatapku.

”Pergilah, Kamarastra!” ia berkata. ”Mengingat pertemanan kita, aku tak ingin membunuhmu.”

”Begitu?”

”Jangan berlagak bodoh! Kau tak pernah bisa menang dariku.”

Aku benci mengakuinya, tapi ia benar. Bahkan dulu, aku tak pernah bisa mengalahkannya. Sekarang, mengimbanginya pun rasanya akan sangat sulit. Mungkin malah mustahil.

”Maaf sekali, Candaka.” aku berusaha terdengar seelegan mungkin. ”Sepertinya aku tak bisa mengabulkan permintaanmu.”

Aku tidak bohong. Dalam kesempatan lain aku akan menghindari lawan sepereti Candaka ini. Apa lagi ia jelas berkali lipat lebih kuat ketimbang dulu. Atau, aku bisa saja menuruti nasihatnya dan kabur secepat mungkin, mumpung ia masih cukup bijak untuk tidak langsung menyerangku. Sayangnya, saat ini aku tidak bisa.

”Kalau begitu, kau akan bernasib sama seperti teman-temanmu itu!”

”Jangan salah sangka.” aku menatap mayat orang-orang yang baru saja dibunuhnya. ”Mereka bukan temanku. Ini hanya soal bisnis.”

Sekali lagi, aku tidak bohong. Tak jauh dari tempatku saat ini, sepuluh jasad bergeletakan, penuh luka dari kaki sampai kepala. Luka berupa sayatan-sayatan kecil, namun dalam, merobek setiap inci bagian tubuh mereka hingga pembuluh darah di dalamnya. Mereka memang bukan temanku. Kebetulan saja kami sedang memburu orang yang sama. Yaitu Candaka. Ini murni hanya urusan bisnis. Aku butuh uang.

”Tak kusangka kau serendah itu, Kamarastra.” Candaka berkata sinis.

Aku tidak menyahut. Tak peduli apa pendapatnya tentangku.

Baca Selengkapnya

Dialog aneh antara cinta dan televisi

Gara-gara seharian liat televisi khusunya berita, ane jadi terinspirasi bikin satu cerita dialog, tanpa banyak cincong neh ceritanya brader :

Disuatu hari yang ajaib, ada seseorang yang sedang tertidur didepan televisi yang sedang menyala dan tanpa disadari, hatinya yang dalam hal ini diwakili cinta berbicara pada televisi :

CINTA : “Menurutmu apa aku ini mudah diabaikan ?”

Baca Selengkapnya