Tak banyak orang yang pernah mendengar nama Agats. Dan, ketika tahu bahwa ia merupakan ibu kota Kabupaten Asmat, Papua, bayangan yang muncul bisa sangat beragam.

Pun merupakan “ibu kota”, Agats tidak memiliki stereotip kota-kota kebanyakan, apalagi kota di Jawa. Ia tidak dipenuhi bangunan dari beton, jalan-jalan aspal, apalagi gedung perkantoran.

Agats merupakan kota jembatan. Dan ini bukan karena ia memiliki jembatan ikonik laiknya Jembatan Suramadu, tetapi karena secara literal Agats dibangun di atas jembatan-jembatan yang saling merangkai dan menopang kehidupan. Di luar Papua, kita mengenal istilah rumah panggung. Di Agats, baik rumah maupun jalanan berada di atas panggung. Segalanya mesti dibangun di atas tanah.

Medan dan kondisi tanah di Kabupaten Asmat, yang merupakan kawasan muara sungai, memang didominasi oleh rawa dan tanah gambut. Masyarakat menggunakan berbagai jenis kayu untuk kebutuhan pembangunan, seperti kayu besi untuk pondasi jalan dan rumah, serta kayu merah untuk bangunan-bangunan. Saat ini, beton telah digunakan untuk membangun jalan. Namun, penggunaan sangat terbatas lantaran harga terlampau mahal. Gregorius Tuantana, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Asmat, mengatakan bahwa untuk satu meter persegi jalan aspal membutuhkan biaya Rp43 juta.

agats dan papuaUntuk transportasi dalam kota, mayoritas masyarakat Agats berjalan kaki. Agats memang kota kecil yang bisa dikelilingi hanya dengan berjalan. Namun, beberapa orang juga memiliki motor untuk bepergian. Meski bentuknya serupa skuter-skuter seperti Honda Vario atau Yamaha Mio, motor di Agats bukan motor biasa: Ia bertenaga listrik. Motor yang nyaris tanpa bunyi itu biasa dikemudikan dengan pelan, tanpa lampu dan klakson, agar lebih hemat batere. Maklum saja, listrik di Agats hanya hidup antara pukul 18.00-02.00 dini hari.

Berbeda dengan di dalam kota, alat transportasi utama antar kampung atau distrik adalah perahu, baik yang terbuat dari kayu gelondong maupun speedboat modern. Masyarakat Asmat memang menggunakan perahu untuk hampir seluruh kegiatan di luar rumah mereka, mulai dari memancing, mengantar barang, menarik kayu dari hutan, hingga balapan (ya, para pemilik speedboat kerap ‘bertarung’ di sungai untuk menghibur diri).

Agats memang tidak memiliki stereotip kota kebanyakan. Jika kita melihat lebih jeli, mungkin satu-satunya stereotip kota yang dimiliki Agats adalah pluralisme penduduknya. Agats kini juga dihuni oleh orang-orang dari etnis Makassar, Jawa, Cina, hingga Maluku. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Asmat, suku asli yang mendiami kabupaten di selatan Papua tersebut.

Komen