Kumpulan Cerita Menarik

Kumpulan Cerita Menarik – kisah Motivasi & artikel tentang misteri, wisata, tips

Menu

Santri Menulis

Pengalaman di Pesantren
Oleh : Muhammad Lutfi
Setelah berfikir berbulan-bulan dan memeras keringat untuk belajar di Universitas, akhirnya aku bisa merasakan libur juga di kampung halamanku. Berkumpul bersama saudara dan orang tua. Setiap hari saat di kamar kos-kosan aku hanya bisa berdiam diri dan kangen kedua orang tua serta suasana rumah. Di rumahku sendiri, aku bisa makan enak dan tidur sepuasnya. Seperti anak manja. Tetapi, tetap selalu beraktivitas. Membantu orang tua di rumah. Menyapu ataupun membersihkan seisi rumah. Daripada harus berdiam diri dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Kebetulan, adikku juga libur sekolah. Jadi aku juga bisa bermain bersamanya. Setiap hari kita berdua bermain playstation dan berkeliling jalan. Kita melihat padi dan hamparan sawah di setiap pematang jalanan. Adikku memenag orangnya suka sekali bila di ajak bermain. Jadi, aku ajak saja dia bermain.
Sore hari, ketika berjalan-jalan, aku melihat para santri yang bermain sepakbola dan bermain bersama di depan madrasah. Aku iri terhadap mereka. Mereka bisa berkumpul bersama dan berbahagia dengan ikhlas tanpa ada rasa cemas dan gelisah. Mereka setiap hari belajar mengaji dan tekun solatnya.
Sepulang dari jalan-jalan aku bilang kepada Ibuku, “Bu, enak ya, jadi anak pesantren.”
“Kenapa, kamu juga ingin belajar di pondok seperti mereka?”
Aku hanya bisa terdiam. Tidak kusangka ibuku sudah membaca gelagat hatiku. “Iya, mereka sepertinya enak. Dan aku juga ingin belajar mengaji supaya jadi orang yang benar”, kataku. “Dipikir-pikir dulu, nanti malah tidak tahan di sana”, kata ibuku.
Aku segera masuk ke kamar dan merenung. Dalam keadaan mata mengantuk dan setengah tidur. Aku juga sebenarnya, memiliki teman di Universitas yang berasal dari Kebumen. Yang terkenal dengan penduduk santrinya itu. Dia pernah memiliki pengalaman mondok di Pesantren selama tiga tahun. Tetapi, dia berkata kalau di sana tidak boleh leluasa. Dan selalu mengikuti aturan pondok pesantren. Akhirnya, dia pulang ke rumah. Aku berpikir semalaman. Sampai-sampai tidak jadi mengantuk dan melewatkan makan malam. Kebetulan, besok ayah mau pergi ke rumah Kiyai. Aku dan keluarga ikut serta. Di sana, aku seperti di cuci bersih. Apa yang ada dalam hatiku terungkap dan keluar di hadapan Kiyai. Dia berpesan, kalau semua orang tergantung dari diri masing-masing. Memang butuh pendalaman untuk memaknai kata-kata bijak itu. Kiyai itu adalah alumni dari pesantren besar. Dia bahkan seorang mursyid thariqoh. Aku dulu juga bercita-cita emnjadi Kiyai. Sempat waktu kecil dulu, setelah lulus SD orangtuaku ingin memasukkan aku ke pesantren. Tapi setelah melihat anak-anak disana yang mencuci sendiri dan harus mandiri nyaliku menciut. Karena aku masih keibu-ibuan. Apa-apa minta bantuan orang tua.
Itulah yang sempat mencul gejala di hatiku, masih was-was dan bingung. Lalu, segera kuambil telfon sepulang dari rumah Kiyai. Aku ingin menelfon temanku Riyan yang alumni dari pesantren itu.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumssalam, sehat?”
“Alhamdulillah, sehat dan baik-baik saja. Kamu juga bagaimana?”
“Seperti kamu, ada apa? Kok tumben telfon aku.”
“Aku ingin menanyakan pendapatmu tentang mondok di pesantren.”
Aku sebenarnya juga kangen dengan temanku ini. Sudah dua minggu sejak libur awal semester kita tidak pernah melakukan kontak sms. Karena dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Kemana-mana selalu dengan dia dan selalu bersama.
“Aku ingin sekali belajar di pesantren. Tapi hatiku masih bimbang. Menurutmu bagaimana?”
“Tergantung kamu. Kalau kamu ingin dan punya tekad ya tidak apa-apa. Selama tujuanmu itu bagus.”
Akhirnya aku mendapatkan sebuah titik terang. Sebuah cahaya yang membakar semangat. Segera kututup telfon dan kuucapkan terima kasih kepadanya. Dia memang teman terbaik yang pernah ada. Keesokan harinya, aku meminta izin kepada kedua orang tua supaya aku diizinkan belajar mengaji di pondok terdekat. Mereka sepertinya merasa bahagia dan merestui. Aku menyiapkan sebuah tas dan hanya baju dan celana serta peralatan yang penting saja yang kubawa.
Kita segera berangkat menuju ke Pesantren. Mulai masuk gerbang pesantren, hatiku berdebar dan ada juga bercampur rasa semangat. Hatiku menjadi tak menentu. Aku bersalaman dengan Kiyai pemimpin pondok. Aku dipesan supaya belajar yang tekun dan menjadi anak yang patuh. Ayah dan ibu hanya menemaniku makan di serambi aula masjid dan seusai itu, mereka kembali pulang ke rumah. Ada seorang anak lelaki menyapaku, “Assalamualaikum, saya Aris. Santri baru?”, katanya. “Iya, saya Lutfi. Saya santri baru di sini”, jawabku. Dia mengajakku solat berjamaah di masjid. Aku yang baru di situ mengalah menjadi makmum saja. Karena aku juga belum begitu hafal bacaan dan tatacara sholat yang khusuk dan benar. Seusai menunaikan solat dia mengajakku ke perpustakaan. Di situ banyak sekali buku-buku dan berbagai kitab-kitab. Halamannya tebal-tebal. Kulihat dia mengambil sebuah kitab dan menyodorkan sebuah kitab kepadaku juga. Yaitu kitab nahwu sorof, supaya mengerti dan paham tatacara membaca dan memahami bacaan arab.
Aku bahkan tidak mengerti bagaimana cara mempelajarinya, dan membaca kitab tersebut.
“Ris, eku bisa minta tolong ke kamu?”
“Apa saja akan kubantu, Insyaallah selama aku bisa.”
“Bagaimana cara membaca ini ya?”
“Nanti aka nada uztad yang membimbing metode pelajaran ini. Kamu ikut saja. Sudah dapat jadwal apa belum?”
“Jadwal apa?”
“Jadwal kegiatan, kalau belum nanti kupintakan kepada Kang Irul. Dia adalah senior di sini. Walaupun umurnya sebaya dengan kita tetapi, ilmunya sudah cukup banyak dan mempunyai sisi istimewa di pandangan Pak Kiyai.”
“Baiklah.”
Segera kubawa kitab nahwu sorof tersebut dan mita berjalan ke secretariat pondok. Disana terdapat sebuah ruangan seperti kantor guru dan ada seorang lelaki duduk di kursi. Ternyata itulah yang namanya Kang Irul. Orangnya ramah dan sopan, budi pekertinya luhur dan setiap yang bertemu pasti akan terkesima dibuatnya. “Saya Irul, nama kamu?”, tanyanya kepadaku. “Saya Lutfi, saya santri baru di sini”, jawabku. “Santri baru dari daerah mana?”, Tanya dia kembali. “Dari desa Tanjungsari”, jawabku. Kami semakin hangat dalam obrolan. Dia bahkan memberiku doa untuk belajar. Memang orang pondok sosialnya bagus, dan memperkuat silaturahmi. Jadi, selama ini anggapan masyarakat yang tidak mengerti tentang pesantren salah. Katanya ketat dan disiplin, tetapi di sini saya belajar dan menemukan kebenaran tentang cara bersosialisme dalam masyarakat. Mereka walaupun banyak teman, pergaulan di mana-mana, tetap syariat jalan dan melaksanakan sunatullah. Inilah yang saya suka. Dunia dan akhirat bisa selamat.
Tiba-tiba adzan maghrib berkumandang, seluruh santri baik putra maupun putrid berbondong-bondong mengambil air wudhlu dengan tertib dan bersiap solat berjamaah bersama Pak Kiyai. Saya hanya memakai baju lengan panjang dan sarung dengan peci hitam. Sedangkan, mereka semua memakai baju koko putih dan wangi yang harum semerbak. Aku jadi minder. Tapi tidak apa, karena aku sadar bahwa diriku santri baru di sini. Segera aku turut berwudhlu dan mengikuti solat berjamaah. Seusai berjamaah kita bertadarusan bersama. Setelah itu barulah tiba giliran yang kunanti-nanti. Yaitu makan malam, karena perutku sudah lapar. Tadi sore hanya makan sedikit saja. Ternya tidak seperti dibenakku, makanan disediakan di sebuah nampan besar dan berisi nasi serta lauknya. Para santri dibagi menjadi lima-lima. Walaupun seadanya saja, mereka tetap merasa kenyang karena sudah mempunyai tekad, yaitu belajar. Serta tidak lupa, yaitu sebuah kebersamaan.
Malam ini aku belajar kitab hadits Riyad Assalihin. Setelah itu semua santri ada yang pergi keluar. Aku pun heran, apakah boleh keluar gerbang. “Ris, mereka mau kemana?”, tanyaku. “Mereka ke warung, mungkin membeli minum atau keperluan lainnya. Yang terpenting jam sepuluh malam sudah kembali ke kamar dan tidur. Karena nanti malam kita sholat tahajud. Itu sudah menjadi kebiasaan kita semua di sini”, jawabnya menjelaskan. “Kalau begitu kita segera tidur saja”, kataku. Karena aku sudah mengantuk begitu juga Aris.
Malam ini entah kenapa aku sulit tidur. Walaupun sudah kupejam-pejamkan mataku, aku terasa sulit tidur. Kulihat teman-teman semua sudah tertidur pulas. Ingin kubangunkan Aris, tetapi aku takut membuatnya terbangun. Biarlah mala mini kucoba untuk tidur dengan paksa. Sampai jam sebelas akupun belum juga tidur. Andai saja ada hp dan laptop, pasti bisa menjadi teman untuk malam ini, khayalku. Udara terasa begitu dingin. Akhirnya, kugunakan sebuah selimut untuk menutup diri agar tidurku lelap. Alhamdulilah, akhirnya aku bisa tidur juga.
Tidak lama, sebuah tangan dan bisikan di telinga membangunkan tidur yang sedang nikmat-nikmatnya. Ternyata sudah jam dua malam. Cepat sekali waktu tidur, tiada terasa mataku juga masih mengantuk. Seorang pria berdiri di depan sambil menggiring para santri agar segera menuju ke masjid. Dia adalah Kang Irul. Dia tersenyum kepadaku dan kusapa dengan ucapan selamat malam. Sholat tahajud dan tasbih dijalankan. Seperti biasanya, kultum selalu hadir seusai sholat. Kalau malam begini, kultumnya tentang cerita-cerita yang mengandung hikmah.
Suatu ketika, aku berjalan melewati warung. Di sana aku melihat seorang wanita memakai hijab warna orange dan tersenyum sambil tersipu malu. Hati kecilku bergetar, dia cantik sekali. Bahkan senyumnya begitu manis. Ternyata namanya Richa. Siang dan malam, bahkan setiaphari kita senantiasa bertemu saat aku disuruh Kang Irul membeli nasi di warung samping Pesantren putri.
Wajahnya begitu lembut sekali. Dan yang paling kukagumi adalah saat aku sholat tahajut tengah malam. Saat berwudhlu kebetulan aku melihat sebuah kerudung yang biasa dipakainya. Kulihat di tempat wudhlu wanita. Ternyata benar, dia sedang berwudhlu. Rambutnya bergelombang sebahu dan aura cantiknya semakin bertambah saja. Dia smengambil kembali hijabnya dan keluar dari bilik tempat wudhlu. Senyum dan sapanya memanggilku dengan lembut.
Tiada terasa sudah dua minggu aku mondok di sini. Senin besok aku sudah harus kembali kuliah. Rasanya begitu banyak kenangan yang indah berkumpul bersama mereka, dan teman-teman para santri. Aku menyapa Richa yang sedang membawa sebuah kardus. “Mau kemana?”, tanyaku. “Memberi amanat dari Bu Nyai”, jawabnya. Sungguh banyak hal yang luar biasa dan banyak kenang-kenangan yang bagus di pesantren. Kini, walaupun sudah kembali kuliah, aku sudah mendapat ilmu dari pondok juga.

Biodata

Nama saya Muhammad Lutfi. Saya bertempat tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. E-mail saya ajidika69@yahoo.com. Saya lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997. No.Hp: 085200135657. Fb: Muhammad Lutfi. Sekarang berstatus sebagai pelajar di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta.
Nomor rekening : 5938-01-009680-53-4

Komen

Related For Santri Menulis