Kumpulan Cerita Menarik

Kumpulan Cerita Menarik – kisah Motivasi & artikel tentang misteri, wisata, tips

Menu

Jelajah Waktu | Bangsa Pertama Manusia

28 Agustus 2014 | Artikel Unik, Cerita Misteri
peradaban-mesopotamia

peradaban-mesopotamia

Nama saya Karni, saya seorang time traveller. Begitu saya memperkenalkan diri kepadanya. Kalau biasanya saya meminta makanan atau minuman kepada siapa saja yang saya temui dalam perjalanan, saya tidak meminta apapun darinya. Tubuh ini seolah meregenerasi dirinya sendiri dari kekeringan air dan nutrisi ketika saya melihat sungging senyum di bibirnya.

“Benarkah? Beruntungnya kamu. Kalau orang lain mengetahui sejarah dari bacaan, kamu melihatnya langsung. Juga masa depan, ketika orang lain hanya bisa menerka, menduga, dan berdoa agar masa depan sesuai keinginannya, kamu telah melihat dan mengalaminya. Kalau tak lengah, kau selalu mencatatnya agar lain waktu kau yang kembali ke masa sekarang memperbaiki apa-apa yang kaulakukan.”

Intonasi dan nada bicaranya tegas tapi tidak merendahkan, membuatku bergeming memandang sosoknya yang bestari dan bijaksana. Senyum yang membuatku kenyang itu kosmetik kepribadiannya.

“Lalu apa yang harus saya lakukan agar masa depan berpihak kepada saya sementara saya tahu bahwa Anda tidak bersama saya di masa depan?”

“Maksudmu, kamu sedang merayuku?”

“Tidak, saya hanya ingin mengajukan sebuah teori tentang asal-muasal manusia. Darimana semua manusia ini berasal?”

“Oh, kau sudah berkelana ke zaman Adam dan ternyata dia seekor kera? Betulkah begitu?”

“Haha. Selera humormu cukup baik. Adam tetap manusia, sedangkan kera seperti Anda.”

“Baiklah, selera humormu buruk.”

Betul, hingga kini belum pernah ada hasil penelitian yang akurat mengenai siapa Adam sebenarnya. Namun sumber-sumber dari kitab-kitab agama samawi (bahkan agama bumi seperti Hindu) menyebutkan bahwa Adam dan Hawa-lah manusia mula-mula. Perlu digaris bawahi, manusia, bukan kera.

“Sebagai seorang muslimah, aku percaya bahwa Adam berkebangsaan Arab. Aku pun menduga bahwa semua manusia yang ada saat ini berasal dari bangsa yang satu, Bangsa Arab.”

“Baiklah, bila Anda mengaku sebagai seorang muslimah bagaimana dengan hadits yang menyebutkan bahwa mula-mula adalah empat nabi yang berasal dari bangsa suryani?” Tanyaku. Raut wajahnya berubah. Saya tahu ia kini terliputi oleh rasa penasaran.

Saya menjelaskan, hadits itu berbunyi “Wahai Abu Dzar, ada 4 Nabi yang berasal dari bangsa Suryani, yakni Adam, Syits; Akhnukh; yakni Idris, yaitu orang yang pertama kali menulis dengan pena; dan Nuh.” (Shahih Ibnu Hibban no 361)

Sebagian besar umat Islam memang mempercayai bahwa semua manusia di dunia ini, demikian juga semua bahasa yang ada berasal dari bahasa Arab. Namun hadits di atas menunjukkan bahwa bangsa yang mula-mula adalah bangsa Suryani.
Sebuah sumber menyebutkan bahwa bangsa Suryani merujuk pada sebuah dinasti yang bernama dinasti Surya (tradisi Hindu), yakni Kerajaan-kerajaan kuno yang berpusat di Mesopotamia termasuk Sumeria, Akkadia, Asyiria, dan Babilonia. Hal lantaran para sejarawan menyebut bahwa pusat peradaban manusia berawal di sana (Mesopotamia).

Kemudian, dari lokasi tersebut manusia mulai menyebar ke berbagai penjuru lalu membentuk peradaban baru. Di Mesir mereka membentuk Kerajaan Firaun, yang mana kebanyakan raja mereka adalah keturunan Qibti bin Misraim bin Ham bin Nuh AS. Di India mereka membentuk kerajaan-kerajaan yang kebanyakan merupakan keturunan dari Hind bin Kush bin Ham bin Nuh. Demikian juga dengan wilayah-wilayah lainnya.
penjelajah-waktu
“Bagaimana aku tahu bahwa kalau yang kamu katakan itu benar? Bisa saja kau hanya menghafalkan sebuah artikel tanpa sumber yang tersebar di Internet. Mungkin hadits itu memang ada, tapi sumber-sumber lainnya tidak kamu sebutkan,” katanya gusar. “Sejak awal aku memang tak pernah menyukai sejarah, karena sejarah adalah ilmu yang diselimuti kabut rekayasa.”

“Kini kamu tahu, hanya tidak mampu mempercayainya. Sebaliknya kamu percaya Tuhan, tapi tidak pernah mau mempertanyakan kebenaran-Nya. Ya, manusia memang punya kebebasan untuk memilih. Aku pun manusia yang memilih untuk tidak menjelaskan lebih jauh.”

Itu adalah kali terakhir aku menikmati tatapan matanya yang lebar. Aku tak mau menduga bahwa dari tatapan itu ternyata dunia di matanya adalah dunia yang sempit. Aku yakin ia seorang perempuan bestari. Dan aku mulai menyesal harus meninggalkan pesonanya yang membuatku kenyang. Meninggalkan pesonanya yang akan terus berkelindan untuk waktu-waktu tertentu pada perjalananku selanjutnya.

Komen

Related For Jelajah Waktu | Bangsa Pertama Manusia