Kumpulan Cerita Menarik

Kumpulan Cerita Menarik – kisah Motivasi & artikel tentang misteri, wisata, tips

Menu

Aku dan Dia

27 September 2012 | Cerita Apa Saja, Cerita Pendek

Aku melihatnya, sungguh aku tak percaya, orang yang kelihatannya hidup bahagia dengan dunianya sendiri seolah tak ada kompromi dengan dunia di sekelilingnya. Sungguh egois, teramat sangat egois. Ia hanya orang biasa yang bagiku sangat memuakkan, tapi sial bagiku aku mengaguminya dan dapat kugambarkan itu padamu, ia adalah iblis yang menyoba mengurungku dalam cengkeramannya dan aku tak kuasa untuk bisa lepas darinya karena dengan semakin aku memberontak maka semakin kuatlah kepasrahanku memberikan jiwa dan ragaku padanya
Di suatu malam kepalaku pening bukan karena penyakit yang memang menjadi wabah di musim hujan seperti sekarang. Aku memutuskan untuk keluar ke tempat dimana biasanya orang-orang menghabiskan malam dinginnya untuk mencari sebuah kehangatan. Aku memarkirkan kendaraanku berjejer diantara kendaraan yang lain. Aku memang sudah gila, membiarkan tubuhku ditelanjangi oleh mata-mata nyalang yang melirik padaku, aku risih sebenarnya karena aku adalah seorang wanita dan disekelilingku adalah para pria. Aku melihat ada dua meja panjang dan dua kursi panjang di masing-masing meja aku memilih yang dekat dengan “bartender” dan memesan minuman kesukaanku, segelas kapucino panas.

 

Kulihat sekeliling, seorang pria membawa tas punggung besar warna hitam berlari kecil menghindari hujan, sepertinya ia tergesa mungkin karena lapar karena kulihat ia menghampiri penjual makanan khas disini. Kemeja warna merah hati yang terlihat dari belahan risleting jaket model lama seperti yang digunakan orang-orang dulu, lebih tepatnya jaket yang dipakai orang-orang tua jaman dulu. Ia mengambil tempat duduk menyendiri diantara kerumunan orang-orang disekitarnya. Setelah meletakkan tas punggungnya ia melepas jaketnya dan kulihat ia menyeka rambutnya yang agak panjang dengan tangan kanannya sembari mengeluarkan sebungkus rokok dan handphone model lama miliknya. Ia duduk dan menyalakan sebatang rokok. Pikiranku tersadar dari “penyakit” lamaku (mengamati orang) ketika bartender menyodorkan pesananku, tanpa pikir panjang aku meneguk kapucino kesukaanku malam itu. Aku teringat kembali pada objek pengamatanku, ia melahap dengan santai makanan pesanannya, sial aku kehilangan satu episode dari pengamatanku.

Rokok kedua menyala dan dari bibirnya yang tebal bagian bawah, dapat kulihat ketika ia meletakkan korek apinya yang arahnya agak menghadap padaku. Setelah tegukkan terakhir dari gelas minumnya ia disapa oleh seorang kenalannya yang akan pulang lebih dulu, berbadan kecil dan tidak terlalu tinggi. Sebuah salam yang hangat untuk seorang sahabat, pikirku. Ia beranjak dari duduknya dan membayar ongkos makanannya. Kukira ia akan segera pulang tapi ia kembali ke mejanya mengambil tas dan menenteng jaket lusuhnya yang sedikit basah terkena air hujan dan berjalan kearahku. Kuberanikan untuk memandangnya dan akhirnya kudapati seutuhnya objek pengamatanku. Kemeja merah hati, celana panjang kain warna coklat dengan agak compang-camping bagian bawahnya, tas besarnya ditenteng pada bahu kanannya, sebuah jam tangan yang kukira merk Alexandre Christie warna hitam yang menghiasi lengan kirinya, dapat kulihat dari modelnya yang khas. Santai ia berjalan menuju sebuah meja lesehan yang mungkin menjadi ciri khas ditempat itu. Aku tak melihatnya ia memandangku ketika aku memperhatikannya berjalan ke meja itu. Perfecto, pikirku. Bagaimana mungkin ia acuh padaku sementara seluruh pria disini ingin ber cinta denganku jika ada kesempatan? Setidaknya itu yang bisa kulihat pada mata mereka yang terus memandangiku. Pikiranku tak mau menerima kenyataan itu, apa ia sudah tidak waras? Atau mungkin tidak tertarik pada perempuan sepertiku? Tapi tak mungkin, aku cukup cerdas dalam menilai seseorang hanya dari gerak geriknya, tapi aku tak sanggup menarik perhatiannya. Sementara nalarku menemukan jawabannya mama menelponku dan menginginkan aku segera pulang, dapat kunilai dari suaranya yang mencemaskanku. “aku segera pulang ma…” timpalku. Aku membayar dan bergegas pulang diiringi tatapan para lelaki kesepian yang nanar melihatku. Aku sempatkan meliriknya sekali lagi berharap mendapat kemenanganku di akhir kunjunganku di tempat itu, namun tak kudapatkan, ia hanya sibuk menatap layar notebooknya dan sepertinya ia mengerjakan sesuatu…..aku pulang dan pertama kali dalam hidupku aku mengaku kalah dalam mendapatkan perhatian seorang pria, pria yang sangat biasa………

Aku meraih handphoneku, memencet nomer sahabatku.
“ya hallo sayang, kemana saja kamu hari ini? Hingga aku maakan berangkat bulan madupun tak sempat berpamitan padamu”
“aku baru saja pulang dari sebuah tempat yang sampai malam ini mengganggu pikiranku”
“apa yang terjadi padamu?, jangan bilang padaku ini tentang seorang pria…mengingat baru tadi pagi kau memutuskan pacarmu yang entah keberapa”.
“ya ini tentang sorang pria, pria yang membuatku jengkel dan penasaran”
“itu yang kau selalu katakan padaku setiap ada pria yang menarik perhatianmu dan aku sudah mulai bosan mendengarmu dan semua argumen-argumenmu tentang para pria-priamu”
“tolonglah aku kali ini, aku merasa ini berbeda tidak seperti semua lelaki yang ternyata brengsek yang pernah menjadi pacarku, aku bersumpah bahwa jika aku mendapatkannya ia akan kujadikan kekasihku”.
“sayang, jangan membuatku tertawa, semua lelaki yang pernah bersamamu kau menganggapnya pacar, sedangkan lelaki yang satu ini, yang belum ada satu hari kau bertemu dengannya kau berani bersumpah bahwa kau akan menjadikannya seorang kekasih? Oh Tuhan yang benar saja, pacar dan kekasih itu berbeda meski terlihat identik. Kurasa kau menderita penyakit yang serius sayangku…”
“tolonglah aku, ia menyiksa pikiranku karena ia tak acuh padaku”.
“ya Tuhan, hanya karena ia tak acuh padamu kau menganggap ini sebagai suatu siksaan?”.
“ya..itu benar…dan dimanakah kau sekarang? Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang”.
“hahaha…jadilah dewasa sayang, apa kau lupa aku telah menikahi pria eksotis yang selama ini kuceritakan padamu dan kami sedang berbulan madu.”
“ya Tuhan aku lupa kau sudah menikah, aku iri padamu…selamat bersenang-senang.”
Tanpa persetujuan Camilla aku menutup telponku secara sepihak. Aku merebahkan diri di atas kasur air kamarku dan mencoba untuk tidur dan sial…pria itu datang lagi di mimpiku.

Komen

Related For Aku dan Dia